ZenPlus, piramida makanan kini mengalami perubahan. Pola makan yang dulu bertumpu pada karbohidrat mulai bergeser ke fondasi baru: protein, serat & mineral, serta lemak sehat. Artikel ini membahas apa saja yang berubah, kenapa perubahan ini penting, dan bagaimana menyesuaikan pola makan sehari-hari agar lebih seimbang dan realistis dijalani.
Manfaat Membaca Artikel Ini untuk ZenPlus
- Memahami perubahan piramida makanan dan dampaknya ke kebiasaan makan harian
- Mengetahui porsi dan pilihan makanan yang lebih seimbang
- Membantu ZenPlus lebih sadar menyusun isi piring tanpa harus ribet
- Menjadi panduan awal untuk membangun pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan
Halo ZenPlus.
Di Indonesia, pola makan sehari-hari kita tuh sebenarnya masih mirip-mirip dari dulu. Nasi jadi bagian terbanyak piring, lauk ada tapi porsinya kecil, sayur sering cuma numpang lewat. Bahkan, buat sebagian orang, kalau belum makan nasi rasanya belum benar-benar makan.
Pola ini wajar sih. Selama bertahun-tahun kita sudah mengenal bahkan ditanamkan pola yang memang menempatkan karbohidrat sebagai fondasi utama. Yang penting kenyang, urusan gizi belakangan.
Tapi seiring perkembangan ilmu gizi, cara pandang ini mulai bergeser. Piramida makanan terbaru nggak lagi menjadikan karbohidrat sebagai dasar.
Fondasinya sekarang adalah protein, serat & mineral, serta lemak sehat. Karbohidrat tetap ada, tapi porsinya lebih terkontrol. Gula dan garam? Ditaruh paling atas, artinya paling sedikit.
Nah, kalau fondasinya berubah, kebiasaan makan kita perlu diubah sejauh apa, sih?
Protein: Dari Lauk Pendamping Jadi Andalan

Kalau dipikir-pikir, di pola makan lama protein sering banget dianggap pelengkap nasi. Lauk ada yang penting makan, porsinya urusan nanti. Padahal, tubuh kita justru sangat bergantung pada protein.
Protein bantu menjaga massa otot, bikin metabolisme tetap jalan, bantu perbaikan sel tubuh, dan yang sering kerasa banget: bikin kenyang lebih lama. Ini juga kenapa pola makan tinggi karbohidrat tapi minim protein sering bikin cepat lapar lagi.
Coba deh refleksi sebentar, ZenPlus.
Dalam satu kali makan, mana yang lebih dominan di piring—nasi atau proteinnya?
Padahal sumber protein itu dekat banget sama keseharian kita:
- hewani: dada ayam, daging sapi, ikan, telur, susu.
- nabati: tahu, tempe, kacang-kacangan.
Mengombinasikan protein hewani dan nabati dalam sehari itu justru bantu kebutuhan protein tercukupi tanpa harus berlebihan di satu sisi.
Serat: Ada, Tapi Sering Kurang

Selain protein, piramida baru juga menaruh serat dan mineral sebagai bagian penting fondasi makan. Serat ini perannya besar lho—buat pencernaan, kestabilan gula darah, sampai rasa kenyang.
Serat datang dari sayur dan buah. Ada serat larut yang bantu ngontrol gula darah dan kolesterol, ada juga serat tidak larut yang bantu kerja pencernaan lebih lancar. Dua-duanya dibutuhkan.
Masalahnya, sayur sering cuma jadi “hiasan piring”. Ada sih, tapi dikit bahkan sering tidak ada sama sekali. Padahal, waktu porsinya cukup, efeknya terasa—perut lebih nyaman, kenyang lebih tahan, badan juga lebih nyaman.
Karbohidrat: Nggak Dihilangkan, Tapi Dipilih

Tenang, ZenPlus. Perubahan piramida ini bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Karbohidrat tetap dibutuhkan sebagai sumber energi.
Yang berubah itu jenis dan porsinya.
Sekarang lebih diarahkan ke karbohidrat kompleks yang lebih kaya serat dan bikin energi dilepas lebih pelan, seperti:
- nasi merah,
- ubi jalar,
- singkong,
- sukun,
- jewawut.
Karbohidrat tetap ada di piring, tapi nggak lagi mendominasi. Intinya bukan soal pantang, tapi soal seimbang.
Lemak Sehat: Bukan yang Harus Dihindari

Lemak juga punya tempat penting dalam piramida baru. Lemak bantu penyerapan vitamin dan jaga keseimbangan hormon. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar “ada lemak atau nggak”, tapi lemaknya dari mana.
Lemak sehat bisa didapat dari:
- minyak untuk memasak seperti minyak kelapa, minyak sawit secukupnya, dan minyak zaitun,
- kacang-kacangan dan biji-bijian,
- alpukat,
- butter dalam jumlah wajar.
Jadi bukan soal anti lemak, tapi lebih ke pilih dan pakainya gimana.
Gula dan Garam: Sedikit Aja, Bukan Dilarang

Di piramida baru, gula dan garam memang ditaruh paling atas. Artinya dipakai paling sedikit, bukan dihapus total. Makanan tetap bisa enak kok, nggak harus hambar.
Selama ini, lidah kita kebiasaan “dihajar” rasa kuat dari junk food dan makanan ultra-proses—tinggi gula, garam, dan perasa sintetis. Lama-lama, rasa alami bahan makanan jadi kalah.
Padahal, banyak bumbu dan rempah yang bikin rasa tetap nendang tanpa harus berlebihan. Kunyit, ketumbar, lengkuas, ngo hiong, paprika bubuk, italian herbs, sampai bumbu nusantara lain bisa banget diandalkan. Untuk pemanis, bisa pilih stevia, buah lo han guo, gula kelapa, gula tebu, atau madu murni.
Cara Paling Gampang Mulai Mengubah Pola Makan

ZenPlus nggak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Mulai aja dari yang paling sederhana: atur isi piring.
Rekomendasi dari nusantara.go.id:
- ½ piring berisi protein (boleh kombinasi hewani dan nabati),
- ¼ piring berisi sayur,
- ¼ piring berisi karbohidrat kompleks.
Kalau lapar di sela waktu makan, buah atau kacang-kacangan bisa jadi pilihan camilan.
Pola makan ini bakal lebih terasa hasilnya kalau dibarengi gaya hidup yang mendukung—olahraga rutin, tidur cukup, minum air putih yang cukup, kelola stres, dan pelan-pelan kurangi gorengan serta makanan ultra-proses.
Mulai Ubah Pola Makan dengan Mudah Bersama DietPlus
Kalau aktivitas ZenPlus padat dan sulit konsisten menyiapkan makanan sendiri, DietPlus bisa bantu. Ada berbagai program catering—mulai dari turun berat badan, bulking, clean eating, sampai kebutuhan khusus seperti bumil, busui, dan kondisi medis tertentu.
Menu DietPlus pakai real food, dirancang ahli gizi, terukur, seimbang, praktis, dan tetap enak.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi dengan ahli gizi dan cek program DietPlus. GRATIS!








