Gula, antara Warisan Budaya, Obesitas dan Diabetes

Pada 2013, tanaman panen untuk bahan baku gula menghasilkan 6.2% dari total hasil pertanian dunia dan menyumbangkan 9.4% dari nilai moneter keseluruhan.

Berdasarkan data terakhir tahun 2015, secara global tebu menempati urutan ke 3 sebagai hasil panen yang paling bernilai, setelah gandum & beras. Output utamanya -selain keuntungan komersil- adalah krisis kesehatan publik secara global, yang telah berlangsung selama beberapa abad.

Mewabahnya kasus obesitas -yang selalu diikuti oleh penyakit yang berhubungan seperti, kanker, demensia, gangguan jantung, obesitas dan diabetes- telah menyebar keseluruh negara dimana karbohidrat – yang dari gula – mendominasi ekonomi pangan rakyatnya.

Total konsumsi gula meningkat tajam dalam 160 tahun terakhir & pengaruhnya terhadap obesitas dan diabetes

Pengaruh Gula Terhadap Hipertensi & Obesitas
Gula & Diabetes (sumber: Johnson RJ, et al. Potential role of sugar (fructose) in the epidemic of hypertension, obesity and the metabolic syndrome, diabetes, kidney disease, and cardiovascular disease. The American Journal of Clinical Nutrition, 2007.)

Jadi kenapa tidak kita coba runut ke belakang &  pertimbangkan asal-muasal kuno dari gula, untuk kita lebih mengerti bagaimana ia berkembang hingga menjadi ancaman terhadap lahan, masyarakat & kesehatan kita.

Gula, Obesitas, dan Diabetes

Gula merupakan makanan yang tidak dibutuhkan oleh siapapun, namun diinginkan oleh semua orang.

Kembali ke masa lalu sebentar

Secara fisik manusia berevolusi dengan pola makan sangat sedikit asupan gula & bukan berasal dari karbohidrat yang disuling / dihaluskan / rafinasi. Bahkan sangat mungkin gula masuk ke dalam diet kita secara tidak sengaja.

Pertama kali gula disuling secara kimia dilakukan di India sekitar 2.500 tahun lalu. Dari sana teknik tersebut menyebar ke timur seperti China dan ke barat menuju Persia, Mediterania.

Pada abad pertengahan gula sangat langka dan sangat mahal, bukan makanan harian yang mudah ditemui. Hingga akhirnya bahan mentahnya yaitu  tanaman tebu berhasil dibudidayakan dan berkembang pesat untuk menyuplai permintaan besar dari Eropa yang masyarakatnya sedang “ngidam manis”.

Pada awalnya gula dipandang memiliki manfaat terhadap kesehatan, namun konsumsi masal yang dimulai pada abad 17 lah biang keladi dari tren kesehatan seperti obesitas dan diabetes yang semakin memburuk.

Gula di masa modern

Mencapai abad 21, cengkraman industri gula semakin kuat, melebihi tembakau atau alkohol.

Bahan manis ini tidak hanya telah menggurita -menjadi berbagai produk makanan minuman dan diterima ke dalam semua rumah di seluruh dunia dengan pintu yang selalu terbuka. Dan gula bertanggung jawab terhadap 20% asupan kalori dari komposisi makanan manusia sekarang.

Tapi tak bisa dipungkiri, ia juga telah menjadi sentral ekonomi dunia serta warisan budaya.

Konsumsi aman harian untuk jantung yang sehat adalah 3 hingga 9 sendok teh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, rata-rata orang dewasa mengkonsumsi 22 sdt per hari, bahkan rata-rata anak kecilnya mengkonsumsi 32 sdt setiap harinya.

Sumber konsumsi gula terbesar berasal dari:

  • Softdrink 33%
  • Permen 16.1%
  • Cake, Cookies dan Pie 12.9%
  • Minuman buah 9.7%
  • Dessert dari susu dan olahannya 8.6%
  • Olahan gandum/ biji-bijian lainnya 5.8%

Orang-orang semakin banyak makan makanan prosesan lebih dari sebelumnya

Perkembangan Fast Food  di USA
Perkembangan Fast Food di Amerika (sumber: Dr. Stephan Guyenet. Fast Food, Weight Gain and Insulin Resistance. Whole Health Source.)

Gula pasir / olahan / rafinasi memiliki hubungan erat dengan:

  • Obesitas
  • Tekanan darah tinggi
  • Hypoglycemia
  • Depresi
  • Sakit kepala
  • Mudah lelah / Fatigue
  • Ketegangan syaraf
  • Radang sendi
  • Diabetes
  • Jerawat
  • Iritasi kulit
  • Pengerasan pembuluh darah
Gula dan Diabetes
Efek mengkonsumsi gula terhadap obesitas dan diabetes

Ada sebuah fakta menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Joseph schroeder terhadap kecanduan makanan tinggi gula atau tinggi lemak, ternyata pola respon otak ketika mengkonsumsi gula memiliki pola respon yang sama ketika mengkonsumsi kokain.

Otak akan mengeluarkan senyawa informasi dopamine dan serotonin yang membuat kita merasa tiba-tiba bahagia dan terobsesi.

Hal tersebut yang membuat makanan minuman manis “ngangenin” dan “harus nambah” meskipun secara jangka panjang mendegradasi kualitas kesehatan kita.

Kesimpulan tentang Gula, Obesitas, dan Diabetes

Ternyata memang mengkonsumsi gula berlebih dapat meningkatkan potensi seseorang terkena obesitas dan diabetes. Untuk itu kita harus pintar untuk memilih apa yang masuk ke tubuh lewat makanan.

Dapatkan berbagai menu makanan sehat yang sesuai dengan pola dietmu hanya di dietplus.id!

Kalau kamu suka tulisan ini subscribe channel Youtube dietplusbandung untuk tips gaya hidup sehat. Intip juga akun Instagram dan Facebook dietplus.

Related posts